Bangkit Dari Kubur

Kalo ada yang bertanya “Siapa yang meninggal?”, saat ini saya spontan bisa jawab “Blog saya!”. Bagaimana tidak, seingat saya sudah dua tahun tidak ada produk tulisan baru didalamnya. Interiornya berkarat, mbladhus dan berdebu. Benar-benar layak dimakamkan. Untung username dan passwordnya masih selamat, nyantol di salah satu bagian kortex otak, portable data storage paling canggih di dunia.

Memori saya mencatat buuuaaannyak hal yang sudah terjadi dalam 2 tahun terakhir. Sayang juga, tidak satupun yang sempat tercatat disini. Perubahan pikiran, perjalanan spesial, daftar perjumpaan flora-fauna, pekerjaan, mimpi-mimpi..ahh..sayang sekali. Semoga fragmen-fragmen yang tersisa masih bisa di-restore, sebelum tanpa sengaja mencet clean recycle bin atau muncul bad sector. Blaik!!

Langkah awal menggugah burung phoenix baru saja selesai, Ngoprek halaman blog. Meskipun tampilan masih minimalis, namun setidaknya menu-menu sudah tertata lebih rapi dan bervariasi, ben ra sepi koyo kuburan Dab!. Menu utama berisi sebaris kategori yang lima diantaranya adalah hasil breakdown tiga dunia: Biodiversitas, Kebudayaan dan Pariwisata. Dua kategori lain adalah ruang celoteh, tempat coretan uneg-uneg yang seringkali methungul semaunya dan download,gudang data yang bisa dinikmati bersama.

Senang rasanya bisa bilang “I’m Back!!” (Schwazenegger,A.2003.”Terminator 3: Rise of the Machines”)

Titik 0 Berburung

Hwahhh…beginilah nasibnya jika berlangganan internet dengan budget mepet. Bandwidth nya sempit, koneksi connect-disconnect, bahkan buat buka wordpress aja leleeeet…akhirnya saya harus cabs ke warnet..

Hmm, ternyata postingan favorit dari beberapa prototype tulisan terupload adalah yang berbau burung. Oke, I got the point.
Agar tidak mengecewakan para pembaca yang budiman, kali ini saya juga mau posting tentang burung lagi. Tepatnya di kawasan titik 0 Jogjakarta.

Di tahun ini, saya sudah 2 kali siaran di sebuah stasiun radio di Jogja (Kalo ndak salah bulan April-Mei..basi sih, tapi infonya abadi kok..:D). Tema yang saya angkat ya ndak jauh dari keseharian saya yang kala itu didominasi oleh birdwatching (sampai sekarang juga masih ding..). Seminggu sebelum siaran saya sempatkan melakukan pengamatan di seputar titik 0 Yogyakarta, tepatnya di bawah pohon beringin depan Gedung Agung, di depan Benteng Vredeburg dan komplek Kantos Pos. Saya bermaksud cari-cari bahan untuk dibagikan kepada masyarakat Jogja terkait komplek titik 0 dilihat dari sisi keanekaragaman hayati. Saya datang ke titik 0 dengan penuh semangat.. Dan apa yang terjadi? Tidak ada sodara…karena waktu itu jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari (untungnya waktu itu belum ada orang gila gemar bacok…).

2 hari berselang, saya sempatkan mengamati burung lagi. Kali ini berangkat pagi dan dalam kondisi siap tempur. Bawa monokuler, binokuler dan bekal karena saya bermaksud mengamati burung seharian penuh di titik 0.. sendirian (kuranggawean.com). Alhasil, saya mendapatkan sederatan nama burung yang telah lama saya kenal. Pengen tau?

Ini dia daftarnya:

1. Bondol Haji –Lonchura maja
2. Bondol Jawa –Lonchura leucogastroides
3. Bondol Peking –Lonchura punctulata
4. Burung-gereja Erasia –Passer montanus
5. Burung-madu Sriganti –Nectarinia jugularis
6. Cabai Jawa –Dicaeum trochileum
7. Cabak Kota –Caprimulgus affinis
8. Cinenen Pisang –Orthotomus sutorius
9. Cipoh Kacat –Aegithia tiphia
10. Kacamata Biasa –Zosterops palpebrosus
11. Kerak Kerbau –Acridotheres javanicus
12. Kerak Ungu –Acridotheres tristis
13. Layang-layang Batu –Hirundo tahitica
14. Layang-layang Api –Hirundo rustica
15. Punai Gading –Treron vernans
16. Serak Jawa –Tyto alba
17. Perenjak Jawa –Prinia familiaris
18. Tekukur Biasa –Streptopelia chinensis
19. Walet Linci –Collocalia linci
20. Kekep Babi –Artamus leucorhynchus
21. Kapinis Rumah –Apus affinis
22. Merbah Cerukcuk –Pycnonotus goiavier
23. Cucak Kutilang –Pycnonotus aurigaster
24. Alap-alap Kawah –Falco peregrinus

Titik 0, Yogyakarta 25 April 2010

Ada satu jenis burung migran yang umum beredar di sini bernama Jalak Cina Sturnus sturninus, namun karena musim migrasi sudah lewat, burung tersebut tidak lagi teramati.

Jika melihat bagaimana area titik 0 hidup setiap harinya dengan kesibukan, hiruk-pikuk dan polusi, saya cukup dibuat terheran-heran oleh daftar ini. Kok lumayan banyak ya? Padahal saya hanya menempuh rute Benteng Vredeburg-Gedung Agung-Polres Kota Yogya, balik lagi lalu tongkrong di depan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Dugaan sementara adalah karena di komplek ini masih dijumpai beberapa pohon berukuran cukup besar yang mampu menyediakan fasilitas penunjang hidup bagi burung-burung tersebut. Ancaman dari perburuan juga berada di titik minimal karena lokasi yang ramai serta letak tumbuh pepohonan berada didalam area berakses terbatas (Gedung Agung).

Ada rasa haru ketika mengakhiri sesi pengamatan itu. Pertanyaan yang berbunyi “Sampai kapan?” saya tujukan pada kelestarian beberapa makhluk berbulu penebar pup di trotoar itu.. Semoga keberadan mereka tetap terjaga dan area lain di Jogja menyusul seiring kepedulian warga Jogja terhadap kelestarian lingkungan…

Jogja hijau berhati nyaman..

Ada yang mau menambahkan??
Kulo sumanggakaken.. 😀

Burung-burung di Bandung

Satu atau dua minggu kedepan blog saya akan banyak bercerita tentang kota Bandung dan Bogor. Saya menganggap ini sebagai konsekuensi saya setelah satu minggu keluyuran suka-suka disana. “Gak ada yang gratis Bung..” kata saya pada diri sendiri..

Bagi saya bukan hal yang aneh jika anda melihat saya berjalan tolah-toleh, tengak-tengok dan sering mendongak.. Hal yang bisa jadi membuat anda merasa sebal bukan main ketika berjalan bersama saya. Tapi ya gimana lagi, sudah bawaaan orok, seakan-akan mata saya selalu ingin melihat sesuatu yang unik dan detil. Yang penting harus tetap hati-hati agar tidak terperosok, terantuk sesuatu atau dicium kendaraan yang lalu-lalang (itu nasehat nenek saya).

Karena rekan seperjalanan kali ini adalah mereka yang getol dengan arsitektur dan budaya, saya bermaksud menyingkirkan dulu hal-hal berbau pengamatan kehidupan liar dari paket “jeng-jeng” kali ini dengan maksud agar tidak dianggap alien. Tapi saya juga heran kenapa binokuler dan buku panduan lapangan ikut saya masukkan ke dalam tas..mungkin reflek..atau sekedar latah? Ah, biarlah…toh mereka bisa jadi identitas tambahan selain SIM dan KTP kucel saya. (Heh? sejak kapan??)

Singkat cerita, tibalah saya di Bandung,.Dengan mencuri-curi waktu disela agenda utama yang membawa saya ke kota ini birdwatching tetap saya lakukan. Ada beberapa kawasan penting yang saya lewatkan karena jadwal yang begitu padat. Taman Ganesha dan Kebun Binatang Bandung ada diantaranya. Mungkin lain kali daftar berikut akan saya lengkapi, sekalian melanjutkan operation Lost in Bandung.

Burung-burung di Bandung yang sempat saya identifikasi antara lain:

1. Betet Biasa –Psittacula alexandri
2. Bondol Haji –Lonchura maja
3. Bondol Jawa –Lonchura leucogastroides
4. Bondol Peking –Lonchura punctulata
5. Burung-gereja Erasia –Passer montanus
6. Burung-madu Kelapa –Anthreptes malacensis
7. Burung-madu Sriganti –Nectarinia jugularis
8. Cabai Jawa –Dicaeum trochileum
9. Cabak Kota –Caprimulgus affinis
10.Caladi Ulam –Dendrocopus macei
11.Cinenen Pisang –Orthotomus sutorius
12.Cipoh Kacat –Aegithia tiphia
13.Gelatik-batu Kelabu –Parus major
14.Kacamata Biasa –Zosterops palpebrosus
15.Kerak Kerbau –Acridotheres javanicus
16.Layang-layang Batu –Hirundo tahitica
17.Perenjak Jawa –Prinia familiaris
18.Punai Gading –Treron vernans
19.Serak Jawa –Tyto alba
20.Takur Ungkut-ungkut –Megalaima haemachepala
21.Tekukur Biasa –Streptopelia chinensis
22.Walet Linci –Collocalia linci
23.Wiwik Kelabu –Cacomantis merulinus
24.Wiwik Uncuing –Cacomantis sepulcralis

Serasa tak sabar ingin membuat daftar lengkapnya, tapi mengingat saya baru dua hari lalu sampai di jogja, ketidaksabaran saya tampaknya terlalu berlebihan.
Banyak kenangan tertinggal di Bandung, dengan burung, dengan kawan-kawan, dengan musiknya dan dengan kota itu. Dengan senang hati saya akan mengunjungi Bandung lagi..kapan ya? Mungkin setelah punya diving licence.. (He,ga nyambung? biarin..) 😀

Gambar-gambar diambil dari sini

Sounds of Eternity

Before the day getting darker, before time become a thief, before I leave this city and keep the memories…

I step outside those train and wonder, why all of this life draws me here… what will I have afterward..what in this world is waiting for me between the lights and the darkness of this city.

I don’t see any rain, but I heard the melodies…
I don’t catch the sun, but somehow it feel warm inside..
I don’t smell the flowers, but I knew I saw her smile..

The sky seem so blue, the rain wasn’t here
but I smell her…I felt her
and heard the melodies of eternity…

She is the one who waits for me in this lovely city…
Thank you…
and let me save your melodies…

Bandung, August 3rd 2010

Tulupan Pertama

Terinspirasi oleh kawan-kawan yang sukses menulup saya melalui tulisan-tulisan sejuk segar, maka saya mengaku celingukan. Terima kasih untuk Pakdhe Mbilung lewat http://ndobos.com dan Elanto Wijoyono lewat taksidoberkucing.multiply.com yang karya-karyanya bikin saya berani menulis lagi.
Semoga nantinya ada lebih banyak kawan yang bisa saya tauti.
Dengan rahmat Tuhan YME atas organ beku yang mulai mencair lagi, blog ini saya nyatakan “celingak-celinguk..!!”